» Home » Artikel » 10 Hal Yang Perlu Dihindari Saat Mengatasi Jerawat

10 Hal Yang Perlu Dihindari Saat Mengatasi Jerawat

Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang paling sering dialami baik pria maupun wanita. Survei tahun 2010 bahkan menempatkan jerawat sebagai penyakit paling umum ke-8 yang menyerang 650 juta orang dari seluruh penjuru dunia. Meski tidak berbahaya, jerawat dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri dan, yang paling ekstrem, menyebabkan depresi dan memicu bunuh diri di beberapa kasus. Pada sebagian orang, jerawat dapat menghilang dengan sendirinya. Meski demikian, ada juga yang belum mendapatkan hasil meski telah melakukan perawatan.

Jika Anda juga mengalaminya, ada baiknya untuk menghindari hal-hal berikut ini. Sebagian di antaranya sering digunakan dalam pengobatan jerawat, namun sebenarnya justru berbahaya dan dapat memperparah jerawat.

Ini dia 10 hal yang perlu dihindari saat mengatasi jerawat:

1.    Produk yang mengandung scrub

Hindari menggunakan eksfoliator yang mengandung scrub saat sedang berjerawat. Produk tersebut tidak akan membantu menghilangkan jerawat, kecuali disertai dengan asam salisilat atau benzoil peroksida. Scrub justru dapat menghilangkan lipid di lapisan kulit terluar dan menyebabkan iritasi. Akibatnya, kulit jadi sulit mentoleransi obat dan jerawat semakin parah.

2.    Berlebihan dalam membersihkan wajah

Tak perlu juga menggunakan spons atau kuas untuk membersihkan wajah. Lebih baik, oleskan cleanser dengan ujung jari. Pilih cleanser yang dapat menyeimbangkan pH untuk mengurangi iritasi. Gunakan air hangat kuku untuk membersihkan cleanser dari wajah sepenuhnya karena meninggalkan residu dapat menyebabkan iritasi. Jika sudah, tepuk-tepuk wajah dengan handuk bersih. Tunggu 5 sampai 15 menit sebelum menggunakan obat jerawat.

3.    Produk yang mengandung minyak

Jerawat seringkali datang menyerang saat terjadi perubahan hormon dalam tubuh yang menyebabkan kelenjar minyak bekerja lebih aktif. Agar tidak semakin parah, hindari menggunakan produk perawatan wajah, make up, dan tabir surya yang mengandung minyak.

Gunakan produk yang bebas minyak (oil-free) atau noncomedogenik. Anda juga dapat memakai make up berbahan dasar mineral seperti dimethicone, powdered silica, powdered titanium dioxide, powdered zinc oxide.

4.    Memencet jerawat dengan paksa

Memencet jerawat jika dilakukan dengan sembarangan dapat membuat kulit iritasi dan memperparah jerawat. Bakteri P. acnes akan semakin terperangkap di dalam pori dan menyebabkan iritasi. Cara ini bahkan dapat memperlama proses penyembuhan jerawat dan meningkatkan risiko terbentuknya bekas luka. Para dermatologis menyarankan untuk mengoleskan obat jerawat tepat di area bermasalah dibandingkan memencetnya dengan paksa.

5.    Menyentuh jerawat

Tak hanya memencet dengan paksa, menyentuh jerawat pun dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk kondisinya. Bakteri yang terdapat pada jari dan kuku akan meningkatkan risiko terbentuknya jerawat baru dan menimbulkan bekas luka. Anda juga tidak perlu menutupi jerawat dengan bando atau aksesoris lain karena malu. Menutupinya justru dapat meningkatkan suhu tubuh yang memperparah jerawat.

6.    Menggunakan alkohol

Isopropil alkohol atau alkohol gosok (rubbing alcohol) sering digunakan untuk menghilangkan jerawat. Banyak orang mengira alkohol ini dapat membantu menghilangkan kelebihan minyak dan mematikan bakteri penyebab jerawat. Saat digunakan, alkohol gosok memang membuat kulit terasa bersih. Namun senyawa kimia ini dapat merusak DNA pada sel di sekitar pori. Sel-sel ini akan mati dan jika tidak dibersihkan, dapat menyumbat pori, menyebabkan iritasi, dan memicu timbulnya jerawat baru.

7.    Melakukan tanning

Menggelapkan kulit baik dengan menggunakan tanning bed atau berjemur di bawah sinar matahari bisa memberikan efek negatif bagi kulit. Terutama jika Anda sedang menggunakan retinoid seperti adapalene, tretinoin, atau tazarotene untuk mengobati jerawat. Obat-obatan tersebut menipiskan lapisan kulit terluar sehingga kulit jadi lebih sensitif terhadap sinar UV atau lampu tanning bed. Tanning juga meningkatkan risiko terkena melanoma dan kanker kulit lainnya. Memakai tanning bed sebelum usia 35 tahun bahkan meningkatkan risiko melanoma hingga 75%.

8.    Menggunakan ponsel kotor

Dermatologis Mitchell Kline dari New York-Presbyterian Medical Center mengatakan jika menempelkan ponsel di pipi dapat menyebabkan penyumbatan minyak dalam pori. Akibatnya, jerawat baru lebih mudah terbentuk. Meski beberpa penelitian menunjukkan jika kulit memiliki daya tahan tersendiri untuk melawan bakteri dari ponsel, banyak ahli kulit menyarankan untuk menggunakan headset atau handsfree saat menelepon dan rajin membersihkan ponsel.

9.    Makan makanan berindeks glikemik tinggi

Belum ada makanan yang terbukti secara pasti menyebabkan jerawat. Namun makanan berindeks glikemik tinggi seperti roti putih, pasta putih, keripik kentang, dan cake diperkirakan berkaitan dengan jerawat. Makanan semacam ini dapat meningkatkan kadar gula dalam darah dengan cepat dan produksi hormon androgen. Perubahan hormon inilah yang diduga dapat memicu timbulnya jerawat.

10.  Merawat jerawat membandel sendiri

Jika Anda sudah mencoba mengobati jerawat sendiri dan tidak ada perubahan, jangan ragu untuk meminta bantuan dari dokter kulit. Para dermatologis lebih paham dengan masalah yang Anda alami dan memiliki solusi yang paling tepat. Segeralah berkonsultasilah ke dokter untuk mempercepat penyembuhan dan meminimalisir timbulnya bekas luka.

Klinik Kecantikan DR. Indrajana, Jl Tanah Abang III No 23A adalah tempat yang tepat untuk berkonsultasi. Informasi dan Jadwal dokter hubungi 021-3841919,3803558,3503033 atau klik www.klinikdrindrajana.com